Berusaha Memahami dan Menjadi Feminis di Dunia yang Menjual Seks

Apa itu feminisme? Sebuah pertanyaan yang sering sekali muncul entah sejak kapan, tapi setiap kamu menjawabnya di depan orang yang berbeda, ada kemungkinan percakapan akan berlanjut dengan kalimat “salah, ya memang ada bagian itu, tapi…” Kemudian kata “tapi” tersebut dilanjutkan dengan berbagai argumen yang berbeda-beda, tergantung dari latar belakang sang pemilik argumen.

Untuk mempermudah definisi apa itu feminisme, saya akan mengutip pernyataan sangat keren dari aktor dan komedian ternama, Aziz Ansari, di acara Late Show with David Letterman:

“Kamu adalah seorang feminis kalau kamu pergi ke konser Jay Z dan Beyonce, dan kamu tidak berpikir ‘hmm aku rasa Beyonce seharusnya mendapatkan pemasukan 23 persen lebih kecil daripada Jay Z.’”

Sebuah pernyataan yang secara tidak langsung mengungkapkan kalau kita semua sebenarnya adalah feminis, kecuali kalau kamu adalah orang yang betul-betul sensitif dan insecure terhadap posisi lelaki di dunia yang sangat patriarkis ini.

Sebagai seseorang lelaki yang dibesarkan oleh wanita yang sangat hebat, tumbuh bersama keluarga yang didominasi oleh wanita, dan menyaksikan banyak wanita cukup ditekan dengan budaya dan adat patriarki, tentunya saya sangat mendukung feminisme.

Saya jelas ingin perlakuan yang seimbang antara lelaki dan perempuan dalam segala bidang. Mulai dari hak perempuan untuk memilih menjadi seorang wanita karier atau ibu rumah tangga, hak perempuan untuk merokok di depan umum tanpa diperhatikan dengan pandangan penuh penghakiman, sampai ke hak pelajar perempuan untuk ikut coret-coretan baju setelah lulus sekolah tanpa harus dibuat viral di media sosial sedangkan perlakuan yang sama tidak diperoleh pelajar laki-laki.

Tapi terkadang niatan saya untuk menjadi “Social Justice Warrior” tersebut suka terhalang oleh pertanyaan yang sering muncul di pikiran saya sendiri. Pertanyaan tentang menjadi seorang cowok tua yang ingin mendukung feminisme di dunia yang sangat hobi menjual seks.

Sebuah kebalikan total

Meskipun sangat menginginkan karakter wanita yang tidak hanya dieksploitasi untuk meningkatkan penjualan melalui seks, begitu kita membicarakan soal nafsu, saya langsung merasa seperti orang munafik. Ejekan umum tentang lelaki itu memiliki otak di penis cukup saya yakini berlaku di banyak laki-laki, mayoritas bahkan, tidak terkecuali di diri saya sendiri

Hal ini semakin saya sadari beberapa waktu lalu, ketika saya bersama teman-teman menonton pertandingan MMA di pusat Jakarta. Hari itu, saya merasa seperti asupan testosteron yang mengisi tubuh saya langsung berluap. Mulai dari ikut bersorak ketika para petarung beraksi di ring oktagon, sampai ke momen yang paling membuat konflik batin dalam diri, yaitu momen ketika saya hanya bisa bengong dan berfantasi tidak-tidak ketika melihat para ring girl dengan pakaian seksi tersenyum ke arah penonton dan berjalan dengan lenggok tubuh yang begitu aduhai.

One FC Ring Girl | Photo

Kejadian sama juga terjadi ketika saya dan seorang kawan memutuskan untuk mengunjungi Hooters di Shibuya ketika kami berdua liburan ke Tokyo. Saya awalnya ragu untuk masuk karena merasa Hooters adalah tempat yang seksis, tapi begitu masuk, otak saya rasanya seperti pindah ke selangkangan dan berusaha begitu keras untuk tetap sopan dan menjaga mata ketika para pramusaji lewat dan menari dengan begitu seksinya.

Kedua pengalaman itu membuat saya bingung, apakah saya yang begitu menikmati waktu-waktu di Hooters dan pertandingan MMA itu pantas menulis artikel tentang seksisme di video game? Sesuatu yang membuat saya merasa menjadi pria paling munafik di dunia.

Hal ini juga membuat saya yang masih cukup lugu ini bingung, kenapa banyak feminis (tidak semua) yang protes karena Scarlett Johansson adalah satu-satunya karakter dengan pose pamer bokong di poster The Avengers malah mendukung hak para perempuan untuk berpakaian seksi dan mengambil profesi sesuai keinginan mereka, termasuk menjadi seorang ring girl atau pramusaji di Hooters.

Moe Moe Kyun Memek | Poster

Saya pun membawa topik ini ketika mengobrol dengan kawan saya, seorang yang cukup populer dengan karya-karya yang sangat memberdayakan dan menginspirasi wanita. “Sebenarnya batasannya ada di si perempuannya sendiri sih, kalau memang dia merasa nyaman dan ingin menjalankan profesinya tanpa paksaan, lelaki pun harus menghormatinya,” ujar kawan saya tersebut.

Pembicaraan kami saat itu berlangsung dengan cukup kompleks. Tapi ada dua inti yang saya ambil. Pertama, kalau memang tidak ada unsur paksaan pada wanita itu, maka kita tidak berhak menghakimi dia begitu saja. Kedua, dan yang paling penting, hanya karena para wanita tersebut memilih untuk menjadil ring girl atau pramusaji Hooters yang berpakaian seksi, itu sama sekali tidak memberikan hak pada pria untuk melakukan pelecehan seksual dalam taraf apa pun.

Kalau memang kita, para pria, langsung berubah mode dari berpikir pakai otak jadi berpikir dengan selangkangan, biarkanlah hal tersebut tinggal di pikiran kita saja. Tidak perlu mengubah pikiran ngeres yang kadang sulit sekali ditahan tersebut menjadi tindakan, entah sebatas cat calling, apalagi kalau sampai sudah melakukan pelecehan secara frontal. What happens in your head, stays in your head!

Apakah pikiran yang saya miliki ini wajar? Apakah bocah yang bisa tergoda hanya dengan mengunjungi Hooters ini pantas untuk protes karena sebuah video game fokus pada fitur tali bikini karakter yang bisa lepas? Saya jelas tidak tahu jawabannya. Yang bisa saya lakukan hanya memastikan kalau apa pun yang terlintas di pikiran saya, tidak mempengaruhi aksi saya.

Sumber gambar: Behance