Budaya Informasi Kosong – Dari Tetangga sampai Internet

“Dari mana Fahmi?”

“Dari depan. Duluan ya!”

Pembicaraan super singkat diiringi senyuman ini sangat sering terjadi antara aku dan orang-orang sekitar rumah. Sebuah percakapan dengan informasi hampir kosong namun penuh dengan makna kekeluargaan yang sepertinya sudah mengakar di bangsa kita.

Jujur saya sangat suka dengan interaksi-interaksi seperti ini. Hanya dalam waktu beberapa detik, saya setidaknya bisa menerima senyuman, berinteraksi dengan tetangga, dan tetap menjalin hubungan sosial meskipun saya jarang sekali berada di rumah, apalagi sampai ikut kegiatan di lingkungan sekitar.

Masalahnya, bentuk komunikasi ini sepertinya ikutan terbawa ke ranah yang lebih modern. Beberapa bisa dimaklumi karena minor, tapi sebagian lainnya hadir dengan begitu menyebalkan.Bentuk minor biasa terjadi di media sosial seperti Facebook, Twitter, atau Instagram. Tidak jarang kita menjalin pertemanan daring, tanpa pernah ada komunikasi “sungguhan.” Untuk hubungan pertemanan seperti ini, biasanya komunikasi sungguhan baru akan terjadi ketika kedua belah pihak bertemu langsung. Bisa dibilang di sini pertemanan virtual berperan sebagai gerbang untuk pertemanan yang sebenarnya, sesuatu yang jelas sangat-sangat bagus jika bisa terealisasi.

Namun semuanya jadi buruk jika budaya bertukar informasi kosong ini terbawa ke ranah yang lebih profesional. Pelaku utamanya? Media.

Tidak jarang saya lihat berbagai situs membagikan konten dengan judul yang begitu menarik dan dari luar tampak seakan-akan syarat akan makna yang dalam, tapi begitu betul-betul dibuka, isinya kosong melompong. Informasi disampaikan dengan tidak jelas, kadang bisa dibilang nihil eksistensinya, dan yang paling parah berisi informasi salah. Untuk bagian terakhir ini mungkin cukup berbeda konteks, karena informasi salah pun biasa hadir dalam komunikasi dengan tetangga (baca: gosip).

Mungkin saya terkesan seperti memaksa menyambung-nyambungkan konteks, tapi apakah mungkin karakteristik media yang suka memberikan informasi kosong ini lahir dari bagaimana kita biasa berkomunikasi sehari-hari? Mungkin iya, mungkin tidak. Bahkan melalui tulisan ini pun sepertinya saya tengah membuat sebuah ironi besar dengan menyajikan informasi kosong tidak jelas dengan judul bombastis yang di zaman sekarang sering dikenal dengan istilah clickbait.

Hal terbaik yang bisa kita lakukan hanyalah mencoba sebisa mungkin kurangi komunikasi dengan informasi kosong, dan jika ada waktu cobalah melakukan komunikasi “sungguhan,” baik dengan tetangga ataupun dengan teman media sosial. Sedangkan untuk orang-orang yang bekerja di media daring, jadilah lebih profesional dan kurangi basa-basi nihil informasi.

Mungkin saja relasi kosong yang saya jalin dengan tetangga itu ekuivalen dengan standar performa media daring yaitu jumlah kunjungan. Sama-sama penting, tapi kalau kita hanya fokus di sana, bukan hanya informasi yang kita sampaikan dan terima saja yang kosong, tapi hidup juga bisa terasa kosong.