Kota yang Mengkhianati Kucing

Hari ini semuanya tampak normal layaknya hari-hari biasa. Matahari bangun dengan cukup cerah, namun sedikit tertutup mendung di siang hari. Kehidupan kota pun berjalan dengan carut-marut mengesalkannya seperti biasa, tidak ada yang spesial. Tapi menjelang sore hari, beberapa orang baru menyadari apa yang kurang dengan hari itu. Seakan-akan baru terjadi kiamat tanpa suara di malam harinya, hari itu tidak ada satu pun kucing yang menunjukkan dirinya di Jakarta. Baik itu di pusat kota maupun di perumahan.

Hari itu, seluruh Jakarta menjalani mimpi. Mimpi hidup tanpa kucing yang entah kalau dihitung di dunia nyata jadinya berapa lama. Mimpi yang menjadi simulasi atas eksistensi kehidupan yang tanpa kita sadari begitu penting menemani. Mimpi yang diakhiri dengan keringat di tubuh manusia, di jalan raya, dan di berbagai tempat akibat kontennya yang penuh bencana.

Jumlah sampah bertambah, jumlah tikus lebih lagi, begitu juga jumlah beban mental di otak manusia.
Tanpa kucing, manusia ternyata tidak bahagia.
Tanpa kucing, para penyayang binatang kehilangan objek cinta mereka.
Tanpa kucing, para penyiksa binatang kehilangan objek kekejamannya.

Begitu mimpi usai, Jakarta tersadar dan kucing pun kembali.
Kota ini pun berjanji untuk lebih menyayangi kucing.
Tapi ingat, Jakarta adalah kota yang mengkhianati kucing.
Jika kucing saja dikhianati, tidak sulit mengkhianati janji diri sendiri.