Memilih Partner yang Tepat untuk Misi yang Berat

“Sudah dicoba dulu saja, lebih baik nyesel beli daripada nyesel nggak beli lo,” ujarku pada Nadia.

Pembicaraan tersebut terjadi di sebuah kedai yang terletak di kota para pemburu dan pemanah di kaki gunung.

“Tapi, kenapa harus aku?” tanya Nadia.

“Karena aku rasa kau akan menjadi orang yang tepat untukku menghadapi quest ini! Memang sih tidak semua pemain harus menyelesaikannya, tapi mayoritas pemain kalau sudah di level kita sudah menjalankannya bertahun-tahun dan masih gagal.”

“Nah kalau banyak orang yang telah menjalankannya bertahun-tahun dengan kecocokan karakter tinggi saja gagal, kenapa kamu pede betul untuk menjalankan quest ini denganku?”

“Entah, aku juga tidak seratus persen yakin kamu akan menjadi karakter yang cocok untuk karakterku menyelesaikan quest ini, tapi setidaknya kalau kita memulainya lebih awal, kita bisa menghemat banyak waktu kan. Kalau ternyata kita tidak akan bisa menyelesaikannya, setidaknya kita punya waktu dan tenaga lebih untuk mencoba menjalankannya dengan karakter lain kalau dirasa ada yang cocok,” jelasku pada Nadia soal alasanku memilihnya menjadi partner.

Pembicaraan kami berdua mungkin terdengar aneh di telinga orang awam, tapi pembicaraan seperti inilah yang biasa terjadi di antara karakter XIth Life, sebuah MMORPG yang sangat besar dan entah telah menghancurkan, dan juga membahagiakan, hidup berapa orang. Aku sendiri sudah bermain XIth Life sekitar 27 bulan sebagai seorang peri dengan profesi mata-mata. Namun karakterku bisa dibilang masih berlevel cukup rendah, dengan jajaran quest wajib yang belum banyak diselesaikan. Sedangkan Nadia, seorang kawan yang relatif baru kukenal, mulai bermain XIth Life hanya terpaut beberapa hari saja dariku, namun dengan jajaran quest yang daftarnya jauh sekali berbeda denganku. Ia menggunakan karakter berwujud manusia dengan profesi sebagai pemanah.

Aku mengunjungi kota tempat karakternya tinggal demi mengajaknya menjalankan quest yang cukup ekstrem, salah satu quest utama di XIth Life yang sebenarnya boleh saja dilewatkan, tapi efeknya kepada karakter cukup bervariasi, mulai dari tekanan sosial dalam game sampai ke banyak achievement yang terpaksa harus dilewatkan. Kalau dipikir-pikir lucu juga banyak orang yang menjalankan quest ini bukan untuk experience dan bonus yang ditawarkan, tapi hanya untuk status dan komentar dari pemain lain. Walaupun fakta bahwa tekanan sosial pun masih muncul setelah kita melarikan diri di dunia digital seperti XIth Life mungkin merupakan hal paling konyol dan lucu dari semua ini.

Nadia masih menimbang-nimbang keputusan yang perlu diambilnya, sementara aku duduk di seberangnya sudah mulai mempersiapkan diri untuk menerima penolakan dan mulai memikirkan quest apa yang harus aku fokuskan habis ini. Karena mencari partner quest besar langsung setelah ditolak untuk menjalankannya jelas akan terasa sangat membosankan bukan.

“Baiklah, aku akan mencobanya,” jawab Nadia secara tiba-tiba.

“Eh?” aku hanya terbengong-bengong mendengar jawaban yang tidak kusangka sama sekali tersebut. “Maksudmu, kau mau mencoba menjalankan quest ini bersamaku?”

“Iya, aku belum yakin apakah ini akan menjadi pilihan yang tepat atau tidak, tapi ya seperti katamu tadi, yang penting coba dulu saja daripada penasaran.”

Mendengar jawaban Nadia, kontan aku merasa bingung. Aku tidak tahu harus bereaksi apa, mengingat sebelumnya beberapa kali aku mencoba untuk menjalankan quest ini, entah sudah berapa partner yang menolak untuk menjalankannya denganku. Rasanya seperti langsung ingin melompat, tapi sepertinya melompat akan menjadi reaksi yang salah.

So, what’s next?” tanyaku dengan bodohnya.

“Tidak tahu, biasanya kamu bagaimana?”

“Entahlah, aku mencoba menjalankan quest ini beberapa kali dan selalu gagal di objektif awal untuk mencari partner. Bagaimana denganmu? Kamu sempat menjalankannya sampai objektif yang cukup jauh kan sebelumnya?”

“Ya pernah sih, tapi biasanya sih aku dan partnerku hanya menjalaninya dengan biasa saja. Let it flow aja.”

Let it flow ya … huufth aku benci kata-kata itu, tapi yah memang biasanya itu cara terbaik sih.”

So? Let us flow then.”

Yup.”

Dari percakapan di kedai itu, langsung muncul suara notifikasi quest di telinga kami berdua. Progres awal yang baru dalam sebuah misi yang amat sangat panjang. Semenjak hari itu, kami berdua mulai menjalani masa percobaan menghadapi quest ini, sesuatu yang aku masih sangat canggung dalam menjalaninya, tapi menjalankannya bersama adalah inti dari quest yang sangat penting ini.


Pada awalnya, aku dan Nadia menjalankan quest ini dengan cukup normal. Kami berburu monster bersama, menghabiskan waktu antara kotaku dan kotanya secara bergantian, berkomunikasi melalui sihir telepati dengan cukup rutin, rasanya seperti satu server milik berdua … atau mungkin itu hanya ilusi yang aku nikmati sendirian saja.

Jalan dua bulan masa percobaan kami menjalani misi ini, kami pun merencanakan untuk menghadapi perburuan monster yang sudah cukup lama kuincar. Tentunya sebelum menghadapi tantangan sulit ini, kami makan dulu di sebuah kedai yang baru buka di kota. Selesai makan, aku membuka pembicaraan dengan topik yang cukup sensitif.

Eem, sepertinya kualitas dan kuantitas telepati kita belakangan semakin turun ya.”

“Ah, aku sebenarnya mau membahas itu juga, tapi rencananya mau kusampaikan setelah kita menyelesaikan objektif hari ini.”

“Oh,” rupanya yang aku takutkan memang benar akan terjadi. Sesuatu yang harus dihadapi banyak orang harus aku hadapi juga akhirnya.

“Jadi kita sudah coba menjalani misi ini selama dua bulan kan, namun sepertinya aku tidak terlalu merasakan kecocokan yang benar-benar klop.”

Jujur saja ketika mendengar itu, perasaanku cukup campur aduk. Antara perasaan lega karena karakter level rendahku ini akhirnya tidak perlu menjalani quest berat dulu untuk sementara waktu, tapi juga ada perasaan sedih yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Bukan suatu kesedihan yang bisa mendorong orang untuk langsung menghapus akunnya, tapi kesedihan yang … ah entahlah.

“Kamu sendiri yang bilang kan kalau lebih baik mencobanya dulu baru memutuskan setelah menjalaninya, dan sepertinya aku tidak merasa menjalani quest ini dengan maksimal bersamamu sekarang,” tambah Nadia.

Fail fast, learn faster,” ujarku.

Yes.”

Oh well, aku sudah memprediksi hal ini dari beberapa hari terakhir sih, jadi tidak terlalu terkejut juga.”

“Maaf ya.”

“Hei! Buat apa minta maaf, kan memang begini perjanjian awal kita. Daripada kita melanjutkan misinya sampai terlalu berlarut-larut, lebih baik sudahi cepat-cepat saja. Toh tidak sebagai partner quest pun kita masih tetap bisa berteman.”

Yes please, itu yang selalu aku takutkan kalau harus memulai quest ini dengan orang lain. Jangan sampai ada yang hilang karena sebuah misi yang gagal.”

“Oh jangan khawatir, meninggalkan persahabatan hanya karena misi yang gagal itu konyol,” jawabku dengan keraguan dalam diri. “I mean, awkward di awal-awal pasti akan ada, but that’s expected to happen ya.”

Nadia hanya menjawabnya dengan anggukan.

Hmm sudah waktunya nih, kita sudah di sini, akan sangat sayang kalau hunting monster malam ini dilewatkan begitu saja. Shall we continue with the objective tonight?”

“Mari.”

Kami pun berangkat untuk menghadapi objektif yang mungkin menjadi terakhir untuk kami berdua sebagai partner. Berburu monster malam itu bukan merupakan perburuan paling menyenangkan kami, tapi monster yang dihadapi jelas memberikan tantangan yang sangat menghibur. Selama kami menghadapinya, sesekali aku menengok ke Nadia, dan hatiku langsung merasa begitu lemah. Aku kehilangan partner yang begitu luar biasa malam ini, tapi buat apa menjalani misi berat jika kedua karakter tidak menikmatinya dengan maksimal bukan?

Selesai menghadapi monster, kami berdua pun berbagi sedikit cerita tentang pengalaman barusan. Kami mengobrol tentang berbagai hal, sampai tiba waktunya untuk berpisah.

“Sekali lagi maaf ya. Ini bukan dari kamunya kok, tapi memang aku tidak merasa ada chemistry yang cukup saja.” Nadia berkata saat kami akan berpisah di dekat gerbang log out dia.

“Sudah kubilang jangan minta maaf. Justru aku harusnya berterima kasih karena kamu telah memberikanku kesempatan untuk mencoba menjalani quest ini. Setidaknya kita sudah mencoba.”

Hehehe oke. Kalau begitu, sampai jumpa.”

“Sampai jumpa lagi,” ucapku mengucapkan selamat tinggal sambil melihat karakter Nadia menghilang masuk ke gerbang log out.

Sendiri lagi. Perjalanan pulang ini akan terasa begitu panjang sepertinya.

Di perjalanan balik, aku mampir dulu ke toko terdekat untuk menyetok beberapa ransum saat menghadapi jalan pulang. Tiba-tiba saja terdengar musik yang diputar penjaga toko, lagu “Fix You” dari Coldplay yang tiba-tiba masuk ke dunia game ini dengan sangat aneh.

Tears stream down your face
When you lose something you cannot replace

Suara Chris Martin yang terdengar begitu aneh, mungkin karena efek lagu bajakan, menggema dengan begitu lantang di toko tersebut.

“Oh yang benar saja, harus sekali ya lagu ini tiba-tiba diputar di sini,” aku berkata pada diri sendiri.

Meninggalkan toko yang masih memutar “Fix You” tersebut, aku tiba-tiba kepikiran. How can you try to fix someone, to accompany someone, when you yourself is broken and need a fix? Semuanya memang sudah jadi putaran takdir sepertinya.

Oh well, lights will guide me home I hope, just don’t try to ignite my bones yet.”

(Sumber gambar: michaelevans)